Logo Kopi dan Kretek
KOPI DAN KRETEK Orkes Moral Jakarta · Est. 2002
✍️ BUKU TAMU
★ DOKUMEN OTENTIK ORKES MORAL · RESMI TIDAK ILMIAH ★

KOPI DAN KRETEK

"Kami tidak pernah benar-benar sampai. Tapi kami juga tidak pernah benar-benar pergi."

KDK lahir 2002 dari anak-anak Teater Kodok yang Kelamaan Di Kampus. Dari mengisi panggung kosong di Sahid, panggung pensi SMA berujung botol melayang, dikontrak TVRI, berguru langsung pada legenda Orkes Moral Om Jony Iskandar, hingga Panggung Getar Synchronize Fest 2024. Inilah memorabilia 22 tahun perjalanan kami.

🪘 "Gak usah skill-skillan, yang penting bunyi enak joget!"
★ PEMUTAR PITA KASET STEREO KDK · FULL AUTO STOP ★

WALKMAN KOPI DAN KRETEK

Putar kaset audio master asli dengan menekan tombol mekanik fisik di bawah bodi player.

Walkman KDK Stereo Cassette Player
Reel Wheel Left
Reel Wheel Right
Dibuka Untuk Umum
SIAP DIPUTAR [READY]
COUNTER: 000
0:00 03. Nonton India 0:00
Volume: 85% 🎧 Mode Speaker Normal
BUKU KLIPING SEJARAH

LIMA BAB PERJALANAN KDK

Kisah lengkap band yang tidak pernah direncanakan, pintu-pintu yang terbuka lalu tertutup kembali, dan persahabatan yang menolak bubar.

ARSIP DOKUMENTER KOPI DAN KRETEK No. Registrasi: KDK-ORKES-2002-JKT
BAB 1

Kutukan Itu Dimulai Sebelum Kami Tahu Namanya

2000–2006 · Sebuah awal yang tidak pernah direncanakan.

🎤 Prolog Kecil: Konser Dahsyat di Senayan

Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya cikal bakal KDK sudah mulai terlihat sejak pertengahan tahun 2000, lewat sebuah konser dahsyat di Senayan Park (SPARK).

Dahsyat, tentu saja, dalam pengertian kami sendiri.

Konser itu menghadirkan kostum glamor, pencahayaan profesional, dan alat musik supercanggih. Setidaknya, begitulah cara kami mengenangnya hari ini. Dalam ingatan, semuanya tampak megah, seolah-olah kami sedang tampil di panggung utama sebuah festival musik internasional dengan anggaran produksi yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Untungnya, sejarah punya satu kelemahan: ia bisa diceritakan ulang sesuka hati, tetapi foto tidak selalu mau diajak bekerja sama.

Dan kebetulan, kami punya fotonya.

# KDK, Kelamaan Di Kampus

Kami tidak pernah benar-benar merencanakan untuk menjadi band.

Awalnya kami cuma anak-anak Teater Kodok yang kelamaan di kampus. KDK, pada masa itu, berarti Kelamaan Di Kampus. Sebuah nama yang terdengar biasa saja, sampai orang menyadari bahwa kami bukan mahasiswa teladan yang sedang mengejar prestasi akademis. Kami hanya belum juga selesai.

Ada mahasiswa yang kuliah empat tahun lalu lulus. Ada yang lima tahun, lalu lulus. Kami punya pendekatan sendiri terhadap pendidikan tinggi: kami memberikan waktu tambahan kepada institusi untuk mengenal kami lebih dekat.

Saking lamanya, kami mulai akrab dengan lingkungan kampus bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai bagian dari pemandangan. Kalau suatu hari ada yang mengira kami termasuk fasilitas kampus, kami mungkin tidak akan terlalu tersinggung.

Belakangan, KDK menjadi Kopi dan Kretek. Katanya, ide-ide lebih gampang muncul sambil ngopi dan menyalakan kretek. Kami tidak punya penelitian untuk membuktikan teori tersebut. Kami juga tidak ingin melakukan penelitian, sebab ada kemungkinan penelitian itu selesai lebih dahulu daripada kuliah kami.

Dari awal, fondasi organisasi kami memang tidak terlalu ilmiah.

Kami belum punya rencana menjadi band. Lalu kehidupan menawarkan kegiatan tambahan yang berpotensi menyita waktu lebih banyak lagi.

Kalau dipikir-pikir, kami ini bukan orang yang pandai menyelesaikan masalah. Kami lebih suka memperkenalkan masalah baru agar masalah yang lama punya teman.

Dan begitulah, sebelum kami tahu apa itu manajemen band, kami sudah lebih dulu memahami satu prinsip kehidupan: tidak semua hal harus selesai sebelum hal lain dimulai.

# Awalnya, Kami Cuma Mengisi Panggung Kosong

Pada suatu acara di Universitas Sahid, kami tidak punya pertunjukan teater yang siap ditampilkan.

Panggung sudah tersedia, acara harus berjalan, dan kami perlu melakukan sesuatu. Situasinya seperti seseorang yang sudah telanjur memesan gedung pernikahan, tetapi lupa mengundang pengantinnya.

Bedanya, ini bukan pernikahan. Ini acara kampus, dan kami tidak sedang mencari pengantin.

Akhirnya, kami memainkan lagu-lagu akustik dari PSP dan PHB yang sering kami nyanyikan di basecamp.

Tidak ada audisi. Tidak ada rapat pembentukan band. Tidak ada yang berdiri sambil berkata, "Teman-teman, mari kita ubah masa depan musik Indonesia."

Kami bahkan tidak punya alasan untuk berpikir sejauh itu. Kami hanya mengisi panggung yang telanjur kosong.

Ternyata orang-orang menikmati penampilan kami.

Ini kabar baik. Sekaligus awal dari persoalan yang cukup panjang. Sebab, ketika sesuatu yang dilakukan tanpa rencana ternyata berhasil, manusia biasanya tergoda untuk mengulanginya. Kami pun begitu.

Kami bermain lagi, lalu bermain lagi, sampai akhirnya kegiatan yang awalnya spontan itu berkembang menjadi sebuah band.

Tidak ada upacara pendirian. Tidak ada pemotongan pita. Tidak ada surat keputusan yang menyatakan bahwa mulai hari itu kami resmi menjadi sekelompok orang yang akan menghabiskan sebagian hidupnya untuk musik.

Kami hanya terus bermain sampai orang-orang mulai menganggap kami memang band.

Mungkin begitulah KDK dimulai. Kami tidak datang membawa rencana besar. Kami datang membawa lagu-lagu yang biasa kami nyanyikan, lalu pulang dengan kemungkinan untuk manggung lagi.

Bagi sebagian orang, karier dimulai dari mimpi. Bagi kami, karier dimulai dari sebuah panggung yang membutuhkan pengisi acara.

Terkadang, perbedaan antara takdir dan salah penempatan jadwal memang tipis.

👔 Kostum Kami Lebih Siap daripada Masa Depan Kami

Pengaruh Orkes Moral seperti OM PMR, OM PSP, dan Warkop DKI membentuk karakter panggung kami. Kami tidak ingin sekadar tampil sebagai sekelompok orang yang memainkan alat musik. Setiap personel punya karakter, dan setiap karakter punya kostumnya sendiri.

🎭 Biduan 1: Kemeja batik ala Pak RT
🎸 Biduan 2: Rocker tahun 70-an
🏎️ Tamborin: Jumpsuit balap
✌️ Gitaris: Bergaya hippie
✨ Pemain Bas: Pakaian retro atau tradisional
🪖 Pemain Bongo: Bergaya militer
🛌 Pemain Gendang: Tampil lengkap dengan piyama, sandal boneka tidur, serta kupluk tidur!

Kami juga punya tema School Days, Sports Department, The Suit Set, dan Beach Mode.

Kami serius memikirkan penampilan. Ada konsep, karakter, dan pakaian yang disesuaikan dengan tema. Kalau urusan karier belum punya arah yang jelas, setidaknya kami tahu harus memakai apa ketika naik panggung.

Pemain gendang kami, misalnya, bisa tampil dengan perlengkapan tidur lengkap. Orang lain mungkin membutuhkan alarm untuk bangun pagi. Dia cukup naik panggung.

Kami tidak tahu apakah ini bentuk kebebasan berekspresi atau tanda bahwa batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sudah terlalu jauh bergeser. Yang jelas, di KDK, bahkan orang yang terlihat siap tidur pun tetap punya tanggung jawab musikal.

Pengaruh OM PMR, OM PSP, dan Warkop DKI membuat kami memahami bahwa pertunjukan musik tidak harus berhenti pada bunyi instrumen. Ada karakter, humor, dan visual yang ikut membentuk pengalaman penonton.

Kami ingin orang mengingat apa yang mereka lihat.

Tentu saja, ada risikonya. Seseorang mungkin mengingat lagu kami. Seseorang lain mungkin mengingat pembalap berjoget menggeliat sambil memainkan tamborin. Kami tidak tahu mana yang lebih membekas. Musik punya tangga nada, tarian punya koreografi, tetapi gerakan pembalap kami waktu itu sepertinya tidak tercantum dalam buku panduan SKJ 88.

# Tahun-Tahun Ketika Semuanya Terlihat Menjanjikan

Memasuki 2005–2006, KDK mulai sering bermain di berbagai panggung, termasuk Festival Kemang 2005. Kami juga tampil bersama Endank Soekamti, The Upstairs, Seringai, dan Steven & The Coconut Treez.

Kami mulai mengenal skena pensi Jakarta. Panggung demi panggung terbuka, kami bertemu banyak musisi, dan kegiatan yang awalnya hanya untuk mengisi kekosongan mulai membawa kami ke lingkungan yang lebih luas.

Lalu datang kesempatan untuk merekam album melalui label 267 milik almarhum Steven N. Kaligis, yang akrab kami panggil Om Tepeng.

Dalam antrean menuju kesempatan itu, ada Richard D. Gillis, kemudian KDK, lalu Monkey Boots.

Kami punya urutan. Ada proses. Ada sesuatu yang bisa ditunggu.

Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan dengan metode coba-coba, akhirnya ada hal yang berjalan seperti prosedur resmi. Kami tinggal menunggu giliran.

Mengantre bukan pengalaman baru bagi kami. Kali ini, setidaknya, yang ditunggu adalah kesempatan merekam album, bukan pengumuman nilai atau jadwal pertemuan berikutnya dengan dosen.

Untuk sesaat, semuanya terasa seperti sedang bergerak ke arah yang benar.

Kami mulai membayangkan album, rekaman, dan perjalanan berikutnya. Barangkali ini awal dari sesuatu yang lebih besar.

Kami belum tahu apa bentuknya. Kami hanya tahu bahwa ada kesempatan nyata di depan mata, dan kami ingin menjalaninya.

Kalau ini film, mungkin musik latarnya mulai membesar. Kamera bergerak perlahan ke wajah kami, seolah-olah sebentar lagi kehidupan akan memberikan hadiah kepada sekelompok orang yang sudah cukup lama menunggu.

Sayangnya, kehidupan tidak selalu membaca naskah yang sama dengan tokoh utamanya.

🍾 Sebuah Botol di Ujung Sebuah Era yang Berakhir

Di salah satu acara pensi di kawasan Senayan, suasana penonton sudah tegang sebelum kami naik panggung. Ada persoalan antarsekolah yang berujung pada kerusuhan.

Saat KDK tampil, sebuah botol melayang ke arah panggung.

Kami sempat berhenti sebentar, lalu melanjutkan penampilan.

Botol itu bukan bagian dari pertunjukan. Tidak ada di daftar properti, tidak masuk konsep visual, dan tidak pernah dibicarakan dalam persiapan sebelumnya. Kalau memang ada yang berniat menambahkan unsur kejutan, sebetulnya masih banyak pilihan yang tidak melibatkan benda terbang ke arah musisi.

Setelah giliran kami selesai, Seringai naik panggung. Kerusuhan kemudian pecah. Kendaraan dan peralatan band ikut terbakar.

Kejadian itu sudah jauh melampaui urusan pertunjukan. Ada kerusakan nyata dan orang-orang yang terdampak, jadi tidak ada gunanya menjadikannya sekadar bahan lelucon.

Sesudah kejadian itu, suasana pensi sekolah terasa berubah. Acara-acara semacam ini semakin dibatasi, meskipun kami tidak bisa memastikan bahwa satu kejadian itu sendirian yang mengakhiri masa kejayaan pensi.

Yang kami tahu, ruang untuk bermain di skena yang sebelumnya terasa hidup dan penuh kesempatan perlahan berubah.

Kami datang untuk bermain musik. Kami ingin terus bermain musik. Tetapi ada hal-hal di luar panggung yang tidak bisa kami kendalikan, dan dampaknya bisa terasa jauh setelah acara selesai.

Pada saat itu, kami belum menyebutnya kutukan. Kami hanya menjalani kejadian demi kejadian tanpa mengetahui bahwa suatu hari nanti, semuanya akan terlihat seperti rangkaian cerita yang disusun oleh seseorang dengan selera humor yang cukup meragukan.

Kalau memang ada yang mengatur perjalanan kami, kami berharap setidaknya orang itu bekerja berdasarkan kontrak. Sebab, melihat apa yang terjadi kemudian, sepertinya dia tidak pernah mengambil cuti.

Kami belum tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Waktu itu, kami masih menganggap perjalanan ini sebagai sesuatu yang berjalan dengan sendirinya. Kami bermain musik, mendapat panggung, bertemu orang-orang baru, lalu menjalani apa pun yang datang berikutnya.

Kami belum menyebutnya kutukan. Untuk menyebut sesuatu sebagai kutukan, setidaknya orang harus mengalami kejadian aneh lebih dari sekali. Kami belum punya cukup bahan untuk menyusun laporan, apalagi mengadakan konferensi pers.

Kami hanya tahu bahwa perjalanan KDK baru dimulai.

"Kami tidak pernah benar-benar sampai. Tapi kami juga tidak pernah benar-benar pergi."

Dan sebentar lagi, kami akan mengetahui bahwa sebuah pintu yang terbuka belum tentu berarti jalan di belakangnya bebas hambatan.

Bersambung: Pintu yang Sebentar Lagi Terbuka ➔
Circa 2000 @Senayan Park (SPARK)

Circa 2000 @Senayan Park (SPARK)

@Stardust

@Stardust

The OG

The OG

BAB 2

Pintu yang Sudah Terbuka

2005–2006 · Kami sudah hampir sampai. Sayangnya, kami tidak tahu hampir sampai di mana.

🚪 Lalu Datanglah Embrio

Setelah kesempatan rekaman bersama 267 terbuka, datanglah kesempatan lain yang kelihatannya lebih besar.

Sekitar periode itu, kami dihubungi oleh Embrio Management. Di dalamnya ada Patrick Effendy, Andre Wicaksono, dan almarhum Glenn Fredly. Mereka menawarkan diri untuk mengelola KDK.

Buat kami, ini perkembangan yang luar biasa.

Selama ini, kami mengurus band dengan kemampuan yang terbatas. Kami bisa latihan, bikin lagu, dan berdebat tentang hal-hal yang menurut kami penting. Untuk urusan profesional, kami masih berada di tahap ketika membuat jadwal latihan yang dipatuhi semua personel terasa seperti pencapaian manajerial.

Lalu datanglah Embrio dengan tawaran yang mencakup basecamp, operasional, rekaman, uang bulanan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

🏠 Ada basecamp.
🚐 Ada operasional.
🎙️ Ada rekaman.
💵 Ada uang bulanan.

Kami mendengar semua itu dengan ekspresi orang yang baru mengetahui bahwa ternyata menjadi band tidak harus selalu identik dengan mengeluarkan uang.

Selama ini, setiap kali kami membayangkan masa depan KDK, yang terbayang adalah panggung, album, dan penonton. Sekarang, masa depan itu mulai dilengkapi fasilitas pendukung. Tinggal menambahkan mesin kopi dan seseorang yang bertugas mengatakan, “Anak-anak, lima menit lagi naik panggung.”

Kami belum sampai ke sana, tentu saja. Kami bahkan belum tahu apakah band profesional punya jam masuk kantor.

Tapi tawaran tersebut membuat kami merasa bahwa perjalanan KDK akhirnya bergerak ke arah yang benar. Kami tidak lagi harus memikirkan semuanya sendiri. Ada orang-orang yang akan membantu mengurus hal-hal yang selama ini hanya kami bicarakan sambil duduk di mana saja yang tersedia.

Kami merasa seperti band sungguhan. Bukan sekadar sekumpulan orang yang kebetulan punya alat musik dan keyakinan berlebihan terhadap masa depan.

Sayangnya, kami belum memiliki kemampuan untuk membedakan antara masa depan yang sedang dibangun dan masa depan yang baru dibicarakan. Waktu itu, keduanya terlihat sama-sama menjanjikan.

🤝 Restu dari Seorang Senior

Sebelumnya, kami sudah memiliki hubungan baik dengan orang-orang di 267.

Kami berteman dengan para personel Steven & The Coconut Treez, termasuk Mas Tege dan Mas Iwan. Kami juga sangat menghormati para senior kami, terutama almarhum Opa Tedy, Om Tepeng, dan Om ARay.

Buat kami, mereka bukan sekadar orang-orang yang lebih dulu masuk ke industri musik. Mereka adalah orang-orang yang memperlakukan kami dengan baik ketika kami masih menjadi band yang sedang berusaha mencari tempat.

Karena itu, ketika Embrio Management datang menawarkan kesempatan, meninggalkan antrean rekaman di 267 bukan sesuatu yang bisa kami lakukan begitu saja.

Kami membicarakannya dengan Om Tepeng. Ada kemungkinan penalti jika kami pergi, tetapi beliau justru memberikan restu agar kami melanjutkan kesempatan tersebut.

Kalimat beliau masih kami ingat sampai sekarang:

“Go ahead, friend!”

Singkat. Jelas. Tidak bertele-tele.

Kalimat itu mungkin hanya membutuhkan waktu dua detik untuk diucapkan, tetapi efeknya bagi kami hampir seperti menerima surat keputusan bahwa masa depan sudah disetujui oleh pihak berwenang. Kami merasa lega. Restu sudah didapat. Hubungan baik tetap terjaga. Tidak ada permusuhan, tidak ada drama, dan tidak ada yang perlu kami selesaikan melalui konferensi pers. Kami bisa melangkah dengan tenang.

Kalau dipikir sekarang, Om Tepeng sudah melakukan bagian beliau dengan sangat baik. Beliau memberikan kesempatan kepada kami untuk maju tanpa membuat kami merasa bersalah. Bagian yang tidak bisa beliau bantu adalah memastikan bahwa masa depan yang kami pilih benar-benar memiliki masa depan. Itu di luar kewenangan beliau.

Kami pun meninggalkan antrean 267 dengan keyakinan bahwa kami sedang mengambil keputusan yang tepat.

Waktu itu, kami mengira masalah terbesar dalam perjalanan sebuah band adalah bagaimana mendapatkan kesempatan. Ternyata, mendapatkan kesempatan hanyalah satu masalah. Masalah berikutnya adalah memastikan kesempatan tersebut tidak ikut menghilang sebelum sempat digunakan. Dan kami belum memiliki pengalaman di bidang itu.

📹 Manajemennya Hilang, Video Klipnya Ikut Hilang

Lalu, Embrio Management bubar.

Tidak ada penjelasan panjang yang bisa kami jadikan bahan evaluasi. Tidak ada rapat penutupan yang memungkinkan kami duduk bersama dan menyusun daftar hal-hal yang harus diselesaikan. Semuanya berhenti begitu saja.

Rencana yang sebelumnya mencakup berbagai kebutuhan band mendadak berubah menjadi koleksi pertanyaan tanpa alamat tujuan:

  • Basecamp bagaimana?
  • Operasional bagaimana?
  • Rekaman bagaimana?
  • Uang bulanan bagaimana?

Untuk pertanyaan terakhir, kami tidak perlu terlalu lama merenung. Tanpa manajemen yang mengurus kami, konsep uang bulanan kehilangan sebagian besar relevansi praktisnya.

Kami kembali menjadi diri kami sendiri. Band yang punya banyak rencana, tetapi sekarang harus mengurus rencananya sendiri.

Kalau sebelumnya kami membayangkan masa depan KDK sebagai perjalanan yang akan dikelola oleh orang-orang profesional, sekarang kami harus kembali menjadi bagian dari divisi operasional, divisi produksi, divisi keuangan, sekaligus divisi yang bertugas bertanya kepada sesama personel apakah semuanya baik-baik saja.

Jumlah karyawan tetap sama. Jumlah divisi bertambah. Efisiensi organisasi kami mungkin mengagumkan bagi siapa pun yang belum pernah melihat organisasi kami bekerja.

Namun, ada satu hal lain yang ikut hilang ketika Embrio Management bubar: video klip pertama KDK.

Video itu kami produksi sendiri, lalu kami serahkan untuk proses editing. Masih ada beberapa bagian yang perlu diulang. Setelah itu, videonya tidak pernah kembali kepada kami.

Sampai sekarang, kami belum berhasil menemukannya.

Kami tidak tahu apakah video tersebut masih tersimpan di suatu tempat, sudah terhapus, atau memang sudah tidak ada lagi. Yang kami tahu, video klip pertama KDK menghilang sebelum sempat menyelesaikan perjalanan kariernya.

Kami tidak pernah melihat hasil akhirnya. Tidak pernah tahu bagaimana hasil editing-nya. Tidak pernah tahu apakah ada adegan yang seharusnya kami ulang, atau apakah justru ada adegan yang membuat editor memutuskan untuk pindah profesi. Kami hanya tahu bahwa kami menyerahkan video untuk diedit dan tidak pernah menerimanya kembali.

Dalam dunia kerja, ini mungkin disebut masalah koordinasi. Dalam dunia KDK, ini adalah hilangnya satu aset perusahaan tanpa berita acara.

BERKAS ARSIP HILANG

DICARI: VIDEO KLIP PERTAMA KDK

Ciri-ciri: berupa rekaman video, pernah berada dalam proses editing, dan memiliki riwayat hubungan kerja dengan pihak yang sekarang sudah tidak ada.
Terakhir terlihat: sebelum kami sempat menontonnya.
Jika menemukan, mohon dikembalikan kepada pemiliknya. Tidak perlu membayar tebusan. Kami hanya ingin tahu bagaimana hasilnya.

Apakah ia sedang menunggu kami di sebuah folder bernama: FINAL_FIX_BENERAN_FINAL?

Sayangnya, poster tersebut tidak pernah kami buat. Bukan karena tidak terpikirkan, melainkan karena kami bahkan tidak punya foto untuk dipasang di poster orang hilang itu.

Ironisnya, kami sudah memiliki rencana untuk membuat video klip, tetapi tidak memiliki dokumentasi yang cukup untuk membuktikan bahwa video klip tersebut pernah selesai diproduksi.

Kalau suatu hari ada orang mengaku memiliki video itu, kami mungkin akan menontonnya dengan perasaan campur aduk. Bukan karena takut melihat penampilan kami waktu muda. Kami hanya ingin memastikan bahwa video yang ditemukan benar-benar video klip KDK, bukan rekaman acara tujuh belasan yang kebetulan menampilkan seseorang memakai gitar.

⏳ Kembali ke Antrean

Setelah Embrio Management bubar, kami mencoba kembali ke 267.

Sayangnya, dunia tidak menyediakan fitur untuk mengembalikan keadaan ke titik terakhir sebelum seseorang membuat keputusan.

Antrean rekaman sudah bergerak. Untuk kembali, kami harus mengantre lagi di belakang Monkey Boots.

Kami sudah pernah berada di jalur tersebut. Lalu kami memilih jalan lain. Sekarang kami kembali, dan posisi kami sudah berada di belakang. Secara administratif, semuanya masuk akal. Secara emosional, kami ingin mengajukan keberatan kepada siapa pun yang bertanggung jawab atas sistem antrean industri musik.

Kami tidak tahu apakah ada formulir untuk kasus seperti ini. Mungkin ada formulir pengajuan kembali setelah manajemen bubar. Mungkin juga kami harus mengambil nomor antrean baru, mengisi data band, melampirkan surat keterangan pernah hampir rekaman, dan menunggu petugas memanggil nama kami. Kalau begitu, kami siap. Kami sudah punya cukup pengalaman untuk mengisi formulir dengan benar. Masalahnya, kami tidak tahu berapa lama lagi harus menunggu.

Kami pun mengambil keputusan untuk mengerjakan album sendiri.

Tidak ada rapat strategi besar. Tidak ada pidato tentang kemandirian. Tidak ada adegan ketika salah satu dari kami berdiri di tengah ruangan sambil mengangkat tangan dan berkata, “Mulai hari ini, kita tidak bergantung pada siapa pun!”

Kalaupun ada yang mengucapkan kalimat seperti itu, kemungkinan besar orang tersebut sedang mencari alasan untuk tidak perlu mengantre lagi.

Kami hanya ingin menyelesaikan album. Kalau tidak ada manajemen, kami urus sendiri. Kalau tidak ada pihak yang mengatur prosesnya, kami cari jalan sendiri. Kalau tidak ada orang yang memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, kami akan berusaha memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Tentu saja, rencana kami sekarang sangat sederhana: membuat album sampai selesai. Kami tidak ingin kembali ke situasi ketika masa depan band terdengar sangat menjanjikan, tetapi hasil akhirnya belum bisa diputar di perangkat apa pun.

Sebab, semakin lama kami menjadi band, semakin kami menyadari bahwa membicarakan album dan memiliki album adalah dua kegiatan yang berbeda. Kegiatan pertama bisa berlangsung berbulan-bulan. Kegiatan kedua membutuhkan album.

💿 Album Pertama, Dibuka untuk Umum

Pada 2006, album pertama KDK akhirnya dirilis secara independen.

Kami merekam, memproduksi, mencetak, dan mendistribusikannya sendiri. Tidak ada yang perlu kami dramatisasi dari proses tersebut. Kami melakukan apa yang perlu dilakukan sampai album itu benar-benar ada.

Setelah sekian lama berpindah dari satu rencana ke rencana lain, akhirnya kami memiliki sesuatu yang tidak membutuhkan penjelasan tambahan untuk membuktikan keberadaannya.

Album itu ada. Bisa dipegang. Bisa diputar. Bisa diberikan kepada orang lain. Bisa juga disimpan di lemari, meskipun itu bukan tujuan utama kami merilisnya.

Untuk pertama kalinya, kami memiliki hasil yang benar-benar selesai tanpa perlu menunggu kabar dari manajemen, label, editor video, atau pihak lain yang mungkin sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang tidak kami ketahui.

Kami mengerjakannya sendiri sampai selesai. Dan itu adalah pencapaian yang layak kami banggakan.

Tentu saja, merilis album tidak otomatis membuat kehidupan kami berubah menjadi film dokumenter tentang kesuksesan. Tidak ada jaminan bahwa keesokan harinya kami akan menjadi band terkenal. Tidak ada ketentuan bahwa setiap album independen harus diikuti oleh tur nasional, wawancara di televisi, dan seseorang yang meminta tanda tangan di atas tisu restoran.

Kami hanya punya album pertama. Namun, setelah perjalanan yang begitu panjang untuk menyelesaikannya, album itu terasa seperti sebuah bukti bahwa kami memang bisa menghasilkan sesuatu, bukan hanya membicarakannya.

Kami akhirnya bisa menjawab pertanyaan:

“Album kalian kapan keluar?”

Dengan jawaban yang jauh lebih pendek daripada biasanya:

“Album kami sudah keluar.”

Tidak perlu menjelaskan sejarah 267. Tidak perlu membahas Embrio Management. Tidak perlu menceritakan video klip yang menghilang. Tidak perlu menguraikan proses pengambilan keputusan yang membawa kami kembali ke titik awal. Album kami sudah ada. Kalimat sederhana yang membutuhkan perjalanan cukup panjang untuk bisa kami ucapkan.

Dan setelah semua yang terjadi, kami mulai memahami satu hal: terkadang, keberhasilan terbesar bukanlah mendapatkan semua yang pernah dijanjikan kepada kita, melainkan menyelesaikan sesuatu yang memang sejak awal ingin kita kerjakan.

Pada 2006, KDK akhirnya punya album. Bagi kami, itu cukup. Kami tidak lagi harus menjelaskan bahwa kami adalah band yang sedang mempersiapkan album. Kami sudah menjadi band yang memiliki album. Perbedaannya terdengar sederhana, tetapi sangat penting.

Kami sudah belajar dari pengalaman. Kami sudah lebih berhati-hati. Kami sudah tahu bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

"Tetapi kami tetap KDK. Optimisme kami tidak hilang. Kemampuan kami menyusun ekspektasi yang terlalu tinggi juga tidak mengalami perubahan berarti."

Kami masih punya banyak hal yang ingin dikejar. Dan, seperti biasa, kami belum tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Album KDK Dibuka Untuk Umum 2006

Artwork Resmi Album: "Dibuka Untuk Umum" (Rilis DIY 2006)

Latihan Studio KDK 2005

Sesi latihan studio saat menyiapkan materi album mandiri.

BAB 3

Gus Dur dan Celoteh yang Belum Ber-CD

2006–2010 · Kami mulai curiga bahwa semesta punya sesuatu terhadap KDK. Sayangnya, semesta tidak pernah bersedia diwawancarai.

🌌 Semesta Mulai Ikut Campur

Setelah merilis album Dibuka Untuk Umum pada 2006, KDK melanjutkan perjalanan dengan modal yang sudah kami miliki: pengalaman manggung, album sendiri, dan keyakinan bahwa kalau satu pintu tertutup, masih ada pintu lain yang bisa dicoba.

Kami belum tahu bahwa kalimat seperti itu bisa menjadi sangat melelahkan kalau diucapkan terlalu sering.

Sebab, pintu berikutnya kadang terbuka. Kami masuk, melihat-lihat, mulai merasa nyaman, lalu mendapati bahwa ada urusan lain yang perlu dipikirkan.

Kalau ini terjadi sekali, namanya pengalaman. Kalau dua kali, mungkin kebetulan. Kalau berkali-kali, kami mulai ingin bertanya apakah ada orang yang sedang mengerjakan proyek penelitian tentang kehidupan KDK tanpa meminta persetujuan kami sebagai objek penelitian.

Kami tentu tidak punya bukti bahwa semesta sengaja mengganggu perjalanan band ini. Kami juga tidak ingin menuduh pihak mana pun tanpa dasar.

Tetapi kalau suatu hari ditemukan formulir pendaftaran kutukan, kami ingin memastikan siapa yang mengisinya dan apakah tanda tangan kami dipalsukan. Kami tidak ingat pernah menyetujui paket seperti itu.

✈️ Malaysia: Sudah Membayangkan Berangkat, Ternyata Belum

Salah satu kesempatan yang pernah muncul adalah rencana tampil di Malaysia bersama Nidji.

Bagi sebuah band, kesempatan tampil di luar negeri tentu menarik. Ada pengalaman baru, panggung berbeda, dan kemungkinan bertemu penonton yang belum pernah melihat kita bermain.

Belum lagi sensasi bisa mengatakan kepada teman-teman bahwa kami akan tampil di Malaysia. Kalimat itu terdengar cukup keren, bahkan sebelum tiket pesawat benar-benar ada di tangan.

Namun, rencana tersebut batal karena situasi politik.

Kami tidak bisa memaksakan keadaan agar sesuai dengan jadwal manggung. Situasi politik bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan menghubungi panitia lalu meminta mereka menggeser tanggal acara. Kami pun harus menerima bahwa kesempatan tersebut tidak jadi terlaksana.

Kalau dipikir-pikir, KDK punya pengalaman yang cukup unik. Ketika sebuah band menghadapi masalah teknis, biasanya yang diperiksa adalah kabel, alat musik, atau sound system. Dalam kasus kami, urusannya bisa meluas sampai ke situasi politik.

Kami hanya ingin bermain musik. Tiba-tiba, ada hal-hal yang berada jauh di luar kemampuan kami untuk mengaturnya.

Kami tidak tahu apakah kutukan KDK punya jangkauan internasional. Belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa ia memiliki paspor.

Namun, sejak rencana Malaysia itu batal, kami mulai memahami bahwa tidak semua kesempatan bisa diwujudkan hanya karena kami sudah siap menjalaninya.

Kalau suatu hari ada yang menawarkan tur dunia, mungkin kami akan bertanya dulu: ini tur musik atau rapat koordinasi dengan keadaan global? Bukan karena kami tidak berani pergi. Kami cuma ingin tahu siapa saja yang harus kami ajak bicara sebelum berangkat.

📺 TVRI: Akhirnya Kami Punya Jadwal Tetap

Di tengah berbagai kemungkinan yang datang dan pergi, KDK mendapat kesempatan menjadi home band TVRI selama setahun melalui program Indonesia Bermusik.

Ini pengalaman yang berbeda.

Menjadi home band berarti kami tidak sekadar datang untuk satu penampilan, lalu pulang dan menunggu undangan berikutnya. Ada program yang harus dijalani secara rutin. Ada jadwal. Ada pekerjaan yang perlu dilakukan sebagai bagian dari sebuah acara televisi.

Bagi KDK, ini kesempatan yang penting. Kami bisa terus bermain musik, mendapatkan pengalaman tampil di televisi, dan menjalani aktivitas band dengan pola yang lebih teratur.

Setidaknya, sekarang ada jadwal yang jelas. Kami mulai mengenal sisi lain dari dunia hiburan. Kalau sebelumnya kami lebih banyak berurusan dengan panggung dan penonton, kini ada pula kebutuhan produksi televisi yang harus diikuti.

Sebuah acara televisi tentu memiliki tata kerja sendiri. Ada orang yang mengatur produksi, ada susunan acara, dan ada berbagai hal yang harus disiapkan sebelum kamera mulai merekam. Kami tinggal menjalankan bagian kami sebagai home band. Terdengar sederhana, bukan?

Dan memang, untuk sementara, kami bisa menjalani pekerjaan tersebut selama setahun.

Tetapi setelah berbagai pengalaman sebelumnya, kami mulai memiliki kebiasaan baru: menikmati kesempatan yang sedang berjalan sambil sesekali melirik ke kiri dan kanan. Bukan mencari kamera tersembunyi. Kami hanya ingin memastikan bahwa kalau ada sesuatu yang berubah, setidaknya kami tidak menjadi orang terakhir yang mengetahuinya.

Mungkin ini yang disebut pengalaman. Setelah beberapa kali menghadapi rencana yang tidak berjalan sesuai harapan, seseorang menjadi lebih berhati-hati. Atau mungkin kami memang mulai curiga kepada semua hal yang terlihat terlalu normal.

Yang jelas, selama setahun itu, KDK menjadi home band TVRI. Dan untuk sebuah band yang memulainya dari panggung kosong di kampus, pengalaman tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan kami. Kalau ditanya apakah kami juga menjadi home band bagi masalah-masalah yang datang kemudian, jawabannya belum bisa kami pastikan. Tetapi kami mulai punya dugaan.

🎙️ Gus Dur dan Sebuah Proyek yang Belum Sempat Menjadi CD

Di antara cerita KDK pada periode ini, ada pula rencana proyek CD bersama Gus Dur.

Bagi kami, ini bukan kesempatan yang setiap hari datang. Ada kemungkinan membuat sesuatu yang berbeda dari kegiatan band yang selama ini kami jalani.

Namun, proyek tersebut tidak sempat terwujud sebelum Gus Dur wafat pada 2009.

Dan begitulah, sebuah rencana yang pernah ada akhirnya tidak sampai menjadi CD yang bisa kami pegang.

Dalam industri musik, CD biasanya menjadi benda yang bisa disimpan, diputar, atau diberikan kepada orang lain. Ia punya bentuk fisik, sampul, dan isi yang bisa dinikmati. Sementara itu, proyek yang belum selesai hanya bisa diceritakan.

Kami tidak bisa memasukkannya ke rak koleksi. Tidak bisa memutarnya ketika sedang ingin mengenang masa lalu. Tidak bisa pula menunjuk sebuah keping CD sambil berkata, “Nah, ini dia hasil proyek tersebut.”

Sebab, CD-nya memang tidak pernah ada. Kalau ada penghargaan untuk proyek yang paling sulit diputar, mungkin ini salah satu kandidatnya.

Tentu saja, kami tidak menganggap wafatnya Gus Dur sebagai bahan lelucon. Yang absurd adalah kenyataan bahwa sebuah rencana yang pernah terbuka bagi kami akhirnya tidak sempat diwujudkan. Kami hanya bisa mengingatnya sebagai bagian dari perjalanan KDK, tanpa mengarang bagaimana hasil akhirnya seandainya proyek tersebut sempat berjalan.

Dan di sinilah kami kembali berhadapan dengan sesuatu yang mulai terasa akrab: ada kesempatan yang datang, ada rencana yang disusun, tetapi hasil akhirnya tidak selalu bisa kami tentukan sendiri. Kami tidak tahu apakah ini kebetulan atau memang perjalanan KDK punya cara khusus untuk membuat sesuatu berhenti sebelum sempat masuk proses produksi.

“Tolong, kalau bisa, jangan selalu berhenti di tahap pra-produksi. Kami sudah cukup sering berada di sana.”

📻 TPI: Kami Tampil, Lalu Stasiunnya Bubar

KDK juga pernah tampil di TPI bersama Olga Syahputra.

Bagi kami, tampil di televisi merupakan pengalaman yang menyenangkan. Ada kesempatan untuk bermain musik di hadapan penonton yang lebih luas, dan ada pengalaman bekerja dalam lingkungan produksi yang berbeda dari panggung biasa. Kami menjalani penampilan tersebut sebagaimana mestinya.

Namun, dalam perjalanan berikutnya, TPI kemudian bubar.

Sekarang, mari kita berhenti sebentar untuk melihat pola yang mulai terbentuk:
  • Kami pernah punya rencana tampil di Malaysia bersama Nidji. Rencana itu batal karena situasi politik.
  • Kami pernah punya proyek CD bersama Gus Dur. Proyek itu tidak sempat terwujud sebelum beliau wafat.
  • Kami pernah tampil di TPI bersama Olga. Kemudian, TPI bubar.

Apakah semua itu membuktikan bahwa KDK membawa kutukan?

Tentu tidak. Tidak ada bukti bahwa kehadiran sebuah band bisa menyebabkan perubahan politik, menghentikan proyek rekaman, atau membuat stasiun televisi berhenti beroperasi. Kami bukan lembaga pengawas industri hiburan. Kami juga tidak punya laboratorium untuk menguji hubungan antara jadwal manggung dan umur panjang sebuah institusi.

Tetapi kalau semua kejadian itu disusun dalam satu garis waktu, kami bisa memahami mengapa seseorang mungkin mulai bertanya-tanya. Kami sendiri mulai bertanya.

Bukan karena kami merasa punya kekuatan khusus. Kami bahkan tidak bisa memastikan apakah kami punya kekuatan untuk mengingat semua jadwal latihan tanpa membuka percakapan grup. Hanya saja, ada sesuatu yang sulit diabaikan ketika pengalaman serupa muncul berulang kali.

Mungkin ini kebetulan. Mungkin industri hiburan memang penuh perubahan. Mungkin kami hanya terlalu pandai mengingat kejadian-kejadian yang aneh. Atau mungkin kutukan KDK memang bekerja dengan cara yang sangat tidak efisien: tidak pernah mengganggu kami ketika sedang latihan, tetapi selalu berhasil meninggalkan bahan cerita setelah sesuatu terjadi. Kalau begitu, setidaknya kutukan tersebut punya satu kontribusi nyata bagi band ini: Ia membantu kami mengisi halaman buku.

📝 Kami Tidak Menuduh. Kami Hanya Membuat Catatan.

Menjelang akhir periode ini, KDK sudah punya cukup banyak pengalaman untuk diceritakan.

Kami pernah menjalani rencana tampil di luar negeri yang batal, menjadi home band TVRI selama setahun, memiliki rencana proyek CD bersama Gus Dur yang tidak terwujud, dan tampil di TPI sebelum stasiun tersebut bubar.

Masing-masing kejadian punya konteksnya sendiri. Kami tidak menyimpulkan bahwa satu kejadian menyebabkan kejadian lain. Kami juga tidak menganggap semua hal buruk yang terjadi di sekitar kami sebagai akibat dari keberadaan KDK.

Tetapi sebagai band yang sudah menjalani perjalanan ini, kami berhak merasa heran. Sebab, ada perbedaan antara sekadar mengalami sesuatu dan mengalami sesuatu yang kemudian menjadi bahan pembicaraan setiap kali kami berkumpul. Lama-lama, kami tidak hanya bertanya apa yang akan terjadi berikutnya. Kami juga mulai bertanya apakah kejadian berikutnya akan menambah daftar yang sudah ada.

Kalau ada kesempatan baru, kami tentu tetap ingin menerimanya. Kami tidak akan menolak panggung hanya karena takut gedungnya kelak berganti nama, pemiliknya pensiun, atau stasiun televisinya berhenti beroperasi. Kami masih band musik, bukan tim audit risiko.

Namun, mungkin mulai sekarang, setiap kali menerima tawaran baru, kami perlu menambahkan beberapa pertanyaan ke dalam daftar:

  1. Siapa penyelenggaranya?
  2. Kapan acaranya?
  3. Di mana panggungnya?
  4. Dan, yang paling penting: Apakah pihak penyelenggara punya rencana bisnis jangka panjang?

Pertanyaan terakhir mungkin terdengar berlebihan. Tetapi setelah semua yang kami alami, kami merasa berhak sedikit berhati-hati. Kami tidak ingin mengutuk siapa pun. Kami hanya ingin memahami perjalanan sendiri.

Kalau ternyata memang tidak ada kutukan, bagus. Berarti kami hanya punya kumpulan pengalaman yang kebetulan terlihat absurd ketika disusun berurutan.

Kalau ternyata ada, kami berharap pihak yang bertanggung jawab bersedia hadir dalam rapat berikutnya. Kami ingin mengajukan keberatan. Sebab, selama ini, kami yang harus menjelaskan semua kejadian tersebut kepada orang lain. Sementara pihak yang diduga mengaturnya tidak pernah sekalipun datang membawa notulen.

Bersambung: Kami Masih Punya Panggung untuk Didatangi. Semesta, Silakan Ambil Nomor Antrean. ➔
KDK Kostum Buruh TPI

Kostum Buruh Pabrik saat program televisi TPI bersama Olga Syahputra.

KDK Kostum Sekolah TPI

Edisi School Days di studio televisi (2008–2010).

BAB 4

Kami Tidak Bubar, Kami Cuma Jarang Kumpul

2010–2024 · Band lain punya reunion tour. Kami punya pertanyaan, “Eh, kapan terakhir ketemu?”

PIALA RESMI

🏆 2012: Menang Dulu, Bingung Belakangan

Pada 2012, KDK memenangkan A Mild Soundversity.

Iya, menang.

Di antara semua hal yang pernah terjadi dalam perjalanan KDK, ini salah satu yang paling menyenangkan untuk diceritakan karena hasilnya jelas. Kami mengikuti kompetisi, lalu menang. Tidak ada antrean rekaman yang harus diulang, tidak ada video klip yang perlu dicari, dan tidak ada stasiun televisi yang harus kami pastikan masih beroperasi sebelum berangkat.

Kami menang.

Kalimatnya pendek. Bahkan bisa diucapkan tanpa perlu membuka kronologi kejadian sejak 2005.

Buat KDK, kemenangan ini tentu menjadi pencapaian yang membanggakan. Setelah bertahun-tahun menjalani perjalanan musik dengan segala belokan yang kadang tidak tercantum di peta, akhirnya kami mendapatkan sesuatu yang bisa ditulis di CV tanpa tambahan catatan kaki sepanjang tiga halaman.

KURIKULUM ORKES RESMI

👓 Guru Kami Bernama Om Jony Iskandar

Om Jony Iskandar mengajarkan sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi penting: musik harus bisa dinikmati dan membuat orang ingin bergoyang.

Bagi KDK, pelajaran seperti ini sangat relevan.

Kami bisa saja sibuk memikirkan aransemen, karakter lagu, dan bagaimana sebuah pertunjukan seharusnya dibawakan. Tetapi pada akhirnya, musik tetap harus sampai kepada orang yang mendengarkannya.

Kalau penonton harus membaca makalah setebal seratus halaman terlebih dahulu sebelum bisa menikmati lagu kami, berarti ada sesuatu yang perlu dievaluasi. Apalagi kalau makalahnya harus dicetak dua rangkap dan ditandatangani di atas meterai.

Kami ingin musik yang dimainkan bisa langsung dirasakan.

Om Jony menjadi salah satu sosok yang memberi kami pemahaman tentang hal tersebut. Bukan melalui kuliah formal dengan silabus dan ujian akhir, melainkan melalui pengalaman dan cara beliau memandang musik. Kami menyerap pelajaran itu dan terus membawanya ketika tampil.

Dalam dunia pendidikan, mungkin metode ini disebut pembelajaran berbasis pengalaman. Dalam dunia KDK, kami menyebutnya belajar dari orang yang lebih paham, lalu berusaha tidak terlihat seperti mahasiswa yang lupa mengerjakan tugas.

Kami tidak ingin penonton hanya menjadi saksi bahwa sebuah band berhasil memainkan lagu dari awal sampai akhir. Kami ingin mereka ikut menikmati pertunjukannya.

“Coba ane liat gimane maen (gendang)nye?”

“Bukan gitu maen orkes, gebuk aje!”

“Gak usah skill skillan yang penting bunyi enak joget!”

Kalau mereka ikut bergoyang, berarti musiknya sampai. Kalau mereka ikut bernyanyi, lebih bagus lagi. Kalau ada yang pulang dan masih mengingat lagu kami keesokan harinya, kami tentu senang.

Dan kalau ada yang pulang sambil bertanya-tanya sebenarnya KDK itu singkatan dari apa, kami juga sudah punya sejarah panjang untuk menjawabnya.

Tetapi satu hal yang kami pelajari dari Om Jony tetap sama: musik tidak harus membuat orang berpikir keras untuk bisa membuat mereka bahagia. Kadang-kadang, cukup mainkan musiknya. Sisanya, biarkan tubuh penonton yang mengambil keputusan.

⚠️ 2021: Kantor Lo Ngundang KDK. Hati-Hati Abis Ini Bubar.

Setelah pandemi COVID-19, KDK kembali mendapat kesempatan untuk mengisi sebuah program YouTube milik label musik 401 di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Kebetulan, salah satu personel KDK bekerja di sana.

Jadi, ceritanya cukup masuk akal. Ada band, ada label musik, ada program YouTube, dan ada personel KDK yang bekerja di tempat tersebut. Semua unsur tersedia. Tidak perlu mendatangkan orang dari luar negeri atau meminta bantuan kementerian untuk menyelenggarakan acara.

Kami datang untuk mengisi program tersebut.

Sebelum acara dimulai, suasana masih santai. Kami ngobrol seperti biasa. Tidak ada yang menyangka bahwa hari itu akan menjadi salah satu episode penting dalam sejarah panjang hubungan KDK dengan industri musik Indonesia.

Lalu, si Bro, sang Biduan, melontarkan sebuah celetukan kepada personel KDK yang bekerja di sana:

“Bink, kantor lo ngundang KDK, hati-hati abis ini bubar!”

Dia mengatakannya sambil tertawa.

Tentu saja kami ikut tertawa. Namanya juga bercanda. Tidak mungkin sebuah label musik bubar hanya karena mengundang satu band untuk mengisi program YouTube. Kalau begitu, industri musik Indonesia sudah lama tinggal kenangan. Lagipula, kami datang untuk bikin konten, bukan melakukan audit kelayakan bisnis.

Tidak ada yang menganggap celetukan Bro sebagai ramalan. Kami tidak membawa sesajen. Tidak ada personel yang diminta berdiri menghadap kiblat sambil membacakan daftar lagu. Kami juga tidak melihat ada tanda-tanda gaib di sekitar studio, selain kabel yang jumlahnya selalu lebih banyak daripada stopkontak.

Program berjalan. Kami mengisi acara, lalu menjalani kehidupan masing-masing.

Sampai akhirnya, pada akhir 2021, label 401 bubar.

🔥 Oktober 2024: Kami Masih Hidup, Saudara-Saudara!

Pada Oktober 2024, KDK tampil di Panggung Getar, Synchronize Fest.

Dua puluh dua tahun sejak memulai perjalanan pada 2002, kami kembali berada di panggung festival. Ada yang sudah berganti pekerjaan, ada yang punya tanggung jawab keluarga, dan ada yang kalau disuruh mengingat kejadian dua puluh tahun lalu harus duduk dulu sambil memijat pelipis.

Tapi KDK masih ada.

Kami tidak tahu apakah ini bukti ketahanan sebuah band atau sekadar tanda bahwa tidak ada yang pernah mengirimkan surat pembubaran resmi kepada kami.

Kami kembali memainkan musik dengan karakter Orkes Moral yang menjadi identitas KDK. Penonton tidak perlu memahami silsilah band kami untuk menikmati pertunjukan. Walaupun kalau ada yang tertarik, silakan. Ceritanya cukup panjang untuk dijadikan skripsi.

Namun, kami tidak perlu mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan kebangkitan. Cukup naik panggung dan bermain. Kalau ada yang bertanya apakah ini comeback, kami bisa menjawab bahwa kami datang untuk manggung, bukan mengajukan surat permohonan hidup kembali.

Sebab, sejauh yang kami ingat, KDK memang belum pernah resmi meninggal.

⏳ Dua Puluh Dua Tahun dan Kami Masih Belajar

Kalau perjalanan KDK sejak 2002 dijadikan satu garis waktu, hasilnya mungkin tidak menyerupai grafik karier band yang ideal. Ada rekaman, manajemen, album independen, televisi, kemenangan kompetisi, video klip yang menghilang, rencana kolaborasi yang tidak terwujud, dan label musik yang bubar setelah mengundang kami mengisi program YouTube.

Kalau semua itu terjadi pada band lain, mungkin orang akan menganggap ceritanya terlalu dipaksakan. Kami tidak perlu memperindah sejarah. Kalau memang kejadiannya begitu, ya kami ceritakan saja.

Kami tidak punya formula rahasia untuk bertahan selama itu. Menyatukan jadwal beberapa orang dewasa yang masing-masing punya pekerjaan dan kehidupan sendiri saja terkadang sudah seperti proyek penelitian lintas waktu.

Kalau satu personel bisa hari Sabtu, yang lain hari Minggu, dan satu lagi menjawab, “Gue kabarin,” jadwal latihan berpotensi menjadi agenda tahunan.

Tetapi setiap kali kami berkumpul dan memainkan musik, kami tahu mengapa perjalanan ini masih berlanjut. Kami menyukai apa yang kami lakukan dan masih punya cerita untuk dibagikan.

"Kami tidak pernah benar-benar sampai. Tapi kami juga tidak pernah benar-benar pergi."
Bersama Om Jony Iskandar

Silaturahmi di rumah guru kami, almarhum Om Jony Iskandar.

KDK di Synchronize Fest 2024

Panggung Getar, Synchronize Fest (Oktober 2024).

KDK Kostum Waitress Soundversity

Kostum Pelayan Kafe saat Juara 1 Soundversity 2012!

BAB 5

Sebelum Semuanya Lupa

Arsip KDK · Karena ingatan manusia punya batas, sedangkan hard disk punya kebiasaan menghilang.

📁 Kami Punya Sejarah. Katanya.

Setelah tampil di Panggung Getar, Synchronize Fest, pada Oktober 2024, ada satu hal yang semakin terasa penting bagi KDK: mendokumentasikan perjalanan kami sendiri.

Masalahnya, perjalanan kami sudah berlangsung cukup lama. Sejak 2002, ada banyak kejadian, foto, rekaman, kostum, dan berbagai benda yang menjadi saksi perjalanan band ini. Sebagian masih tersimpan. Sebagian mungkin tersimpan di tempat yang benar. Sebagian lainnya sedang menjalani kehidupan baru tanpa sepengetahuan kami.

Kami mulai mengumpulkan apa yang masih ada. Foto-foto lama, rekaman, kaset album independen, single seperti Jangan Jauh-Jauh dan Apenamenye, sampai kostum-kostum yang pernah kami gunakan.

Kalau semua benda itu dikumpulkan di satu ruangan, mungkin orang akan mengira kami sedang membuka toko barang antik.

Kami juga punya foto-foto lama. Foto yang memperlihatkan personel KDK ketika masih muda, ketika rambut masih punya kehendak sendiri, dan ketika memilih pakaian tidak membutuhkan pertimbangan apakah potongannya cocok untuk menghadiri acara keluarga.

Melihat foto lama memang menyenangkan. Sampai kita mulai bertanya siapa yang menyimpan foto tersebut, di mana foto lainnya, dan apakah ada yang punya versi dengan resolusi lebih baik.

Pertanyaan terakhir biasanya berakhir dengan jawaban, “Ada, kayaknya.”

Kata "kayaknya" adalah salah satu musuh terbesar pengarsipan.

RILISAN FISIK & DIGITAL

Rilisan Single KDK

Jangan Jauh Jauh Jangan Jauh-Jauh
Ape Namenye Apenamenye

📼 Video 240p yang Lebih Berharga daripada Film Bioskop

Kami juga berusaha mencari video-video lama KDK, termasuk rekaman dari ponsel Nokia yang kualitas gambarnya mungkin hanya 240p.

Sekarang, orang bisa merekam video dengan resolusi tinggi, suara jernih, dan gambar yang begitu tajam sampai pori-pori wajah ikut terdokumentasi. Dulu, video ponsel memiliki pendekatan visual yang berbeda.

Gambarnya buram, suaranya kadang seperti berasal dari dalam kaleng biskuit, dan objek yang direkam bisa saja tidak langsung dikenali tanpa bantuan orang yang merekamnya.

“Ini siapa?”

“Gue.”

“Oh.”

Selesai. Tidak ada yang perlu diperdebatkan.

Namun, justru rekaman seperti itulah yang kami cari. Bukan karena kualitas gambarnya bagus, melainkan karena rekaman tersebut menyimpan momen yang tidak bisa dibuat ulang. Kalau sebuah video memperlihatkan KDK sedang tampil dua puluh tahun lalu, kami tidak bisa meminta semua personel kembali ke usia tersebut hanya untuk merekam ulang adegannya dengan kamera yang lebih bagus.

Maka, video 240p pun menjadi berharga. Selama gambarnya masih bergerak dan kami bisa mengenali siapa yang ada di dalamnya, rekaman itu punya nilai tersendiri.

Bahkan kalau suaranya tidak jelas, kami masih bisa menebak apa yang sedang terjadi berdasarkan gerakan orang-orang di layar.

Kalau ada yang mengangkat tangan, mungkin sedang memberi aba-aba. Kalau ada yang jongkok, mungkin sedang menghindari sesuatu. Kalau gambarnya tiba-tiba mengarah ke lantai selama dua puluh detik, kemungkinan besar kameramennya sedang punya urusan pribadi.

Semua itu bagian dari dokumentasi.

Dan kami tidak pilih-pilih. Dalam urusan arsip, video yang buram masih lebih baik daripada cerita yang sudah berubah setelah diceritakan berulang kali.

📦 Arsip yang Tidak Bisa Dititipkan Sembarangan

Pengalaman KDK mengajarkan bahwa menyimpan sesuatu bukan pekerjaan yang bisa dianggap selesai hanya karena benda tersebut pernah berada di tangan kita.

Kami pernah punya video klip pertama yang diserahkan untuk proses editing, tetapi tidak pernah berhasil ditemukan kembali. Sejak itu, gagasan tentang dokumentasi terasa sedikit berbeda.

Kami ingin mengumpulkan apa yang masih ada, menyimpan rekaman yang ditemukan, dan memastikan perjalanan KDK tidak hanya hidup dalam ingatan personelnya.

Sebab, ingatan manusia bukan perangkat penyimpanan yang bisa diandalkan sepenuhnya. Ada kejadian yang masih diingat dengan jelas, ada yang tertukar tahunnya, dan ada yang baru muncul ketika seseorang melihat foto lama lalu berkata, “Eh, ini waktu kapan, ya?”

Biasanya, tiga orang akan memberikan empat jawaban.

CD, foto, kostum, rekaman panggung, dan video lama menjadi bagian dari usaha itu. Semuanya membantu menyusun kembali perjalanan yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade.

Kami tidak tahu apakah semua arsip akan berhasil ditemukan. Mungkin ada yang sudah hilang, rusak, atau tersimpan di perangkat yang sekarang bahkan tidak diketahui keberadaannya.

PENGHORMATAN KHUSUS

🙏 Terima Kasih Sudah Ikut Membuat Kami Repot

Dua puluh dua tahun lebih bukan perjalanan yang bisa kami lalui sendirian. Di sepanjang jalan, ada banyak orang yang pernah berjalan bersama kami, berbagi backstage, berbagi line-up, berbagi panggung, bahkan berbagi kesabaran yang mungkin sekarang sudah tidak tersisa.

Untuk itu, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan KDK:

Terima kasih kepada: Sosro, Fruity School Party, Mas Remon yang mungkin sampai sekarang masih mengalami stres pascatrauma akibat kelakuan kami, Masjun, Bebek Bali, Steven & The Coconut Treez, 267, Embrio Management, almarhum Glenn Fredly, almarhum Mbah Surip, Warung Apresiasi, Endank Soekamti, dan Laquena. Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari cerita kami, dalam bentuk apa pun.

Terima kasih juga kepada J-Rocks: yang pernah meminta pindah ruangan karena satu ruangan dengan kami terlalu berisik. Kami tidak tahu apakah itu kritik terhadap volume suara, cara kami berbicara, atau keseluruhan eksistensi KDK sebagai spesies. Apa pun alasannya, kami menghargai keputusan tersebut. Tidak semua band punya kesempatan membuat band lain mengajukan perpindahan ruangan.

Untuk Kaimsasikun: mohon maaf karena soundcheck kami terlalu lama sampai kalian marah. Kami memahami bahwa soundcheck seharusnya digunakan untuk memeriksa suara, bukan menguji batas kesabaran manusia. Semoga setelah kejadian itu kalian tetap bisa mendengar suara gitar tanpa teringat KDK.

Untuk The Brandals: maaf kalau nama KDK di poster pernah tercetak lebih besar dan membuat kalian tidak terima. Kami tidak tahu siapa yang mengatur ukuran font saat itu. Kami juga tidak tahu apakah ukuran huruf bisa memengaruhi kualitas musik, tetapi rupanya cukup untuk memengaruhi suasana hati. Semoga sekarang kita semua sudah berdamai dengan tipografi.

Dan untuk The Upstairs: terima kasih sudah menjadi salah satu band idola kami. Di tengah semua cerita absurd yang kami alami, kami juga pernah menjadi penonton yang mengagumi band lain, melihat mereka bermain, lalu pulang membawa semangat untuk terus bermusik. Tidak semua hal dalam perjalanan ini harus berakhir dengan keributan, salah paham, atau seseorang yang meminta pindah ruangan.

Kepada semua orang yang pernah berbagi panggung, berbagi cerita, membantu kami, mengundang kami, menonton kami, atau sekadar kebetulan berada di tempat yang sama ketika KDK sedang beraksi, terima kasih.

Termasuk kalian yang namanya belum kami sebutkan satu per satu di sini. Bukan karena kami lupa, apalagi sengaja menghilangkan nama demi menghemat halaman. Ingatan kami memang memiliki keterbatasan, sementara daftar orang yang pernah bersinggungan dengan KDK ternyata lebih panjang daripada perkiraan kami sendiri.

Kalau ada yang merasa belum disebutkan, silakan menghubungi kami. Kami tidak menjanjikan akan memasukkan nama kalian ke buku edisi berikutnya, tetapi setidaknya kami bisa berdiskusi tentang siapa yang sebenarnya lebih dulu lupa.

Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari perjalanan ini. Terima kasih sudah memberi kami kesempatan, pengalaman, tawa, teguran, dan cerita yang masih bisa kami bawa sampai sekarang.

Kalian luar biasa.

“Sampai jumpa di panggung berikutnya. Semoga kali ini kami tidak perlu pindah ruangan, tidak membuat soundcheck terlalu lama, dan tidak menyebabkan label musik mana pun bubar.”

📱

Cek Memory Card Sandisk di HP Nokia Lama Lo!

PANGGILAN UNTUK SELURUH PENONTON & KAWAN KDK

Siapa tahu ada video KDK resolusi 240p (.3gp), suara pecah, dan gambar goyang karena yang merekam ikut joget di pensi atau festival. Bongkar isi memory card Sandisk di HP Nokia lama lo!

Tag Instagram: @kopidankretekofficial
📸 Buka Instagram KDK
Bekasi Fair KDKJ015

Dokumentasi Panggung Bekasi Fair 2019 bersama Om Jony (KDKJ015).

The Pallas AirAsia Steampunk

Panggung The Pallas SCBD 2017: Kostum Steampunk Aviator AirAsia.

ARSIP KELUARGA BESAR

THE PEOPLE BEHIND KDK

"Formasi Berubah, Orangnya Makin Banyak"

KDK awalnya band yang personelnya bisa dihitung. Lama-lama, namanya makin banyak, formasinya gonta-ganti, dan orang-orang yang pernah terlibat sudah seperti keluarga besar. Jadi, kalau ditanya siapa saja personel KDK, jawabannya tergantung lagi membicarakan periode yang mana.

2002–2003

FORMASI PERTAMA

The Original Line-up

"Sembilan orang dengan karakter panggung masing-masing. Dari rocker sampai pembalap, dari Pak RT sampai orang yang kelihatannya baru bangun tidur."

Posisi Personel Karakter
Biduan utamaDonny BJonkRocker Kondor
Biduan keduaIphindPak RT
Biduan ketigaBonnyPembalap
Lead GitarSimon AnakayamPreman Pasar
BassistBayu NcustRetro Glam
KeyboardMorganBule Berlan
RhythmOm EngkyFlower Generation
GendangIbinkSleep Walker
BongoBotyGila Army
PILIHAN KDK

FORMASI KEDUA

★ The Best Formation

"Kenapa disebut formasi terbaik? Ya, karena menurut kami begitu. Tidak perlu dibawa ke sidang pengadilan musik."

Posisi Personel Karakter
Biduan utamaIphindPak RT
Biduan keduaBroRocker Gendut
Biduan ketigaBonnyPembalap
Lead GitarOnoRetro
BassistBayu NcustRetro Glam
RhythmOm EngkyFlower Generation
GendangIbinkSleep Walker
BongoBotyGila Army
ERA LANJUTAN

FORMASI KETIGA

The Second Best

"Daniel Keli menggantikan Om Engky di posisi rhythm. Masih keluarga dekat, murni urutan versi KDK sendiri."

Posisi Personel Karakter
Biduan utamaIphindPak RT
Biduan keduaBroRocker Gendut
Biduan ketigaBonnyPembalap
Lead GitarOnoRetro
BassistBayu NcustRetro Glam
RhythmDaniel KeliVintage
GendangIbinkSleep Walker
BongoBotyGila Army
ERA SEKARANG

FORMASI TERKINI

"Kalau Ada yang Nanggap"

"Tidak ada pengumuman comeback besar-besaran. Kalau ada yang nanggap, kami cek jadwal, kumpulkan orangnya, lalu berangkat!"

Posisi Personel Catatan
Biduan utamaBroMaju ke depan
Biduan 2 + SulingIbinkVokal & Suling maut
Biduan 3BonnyTamborin & heboh panggung
Lead GitarBulux luckyFormasi baru
BassistBayu APAdditional to Main
RhythmAchongFormasi baru
GendangAjizKetipung & tabla
BongoBotyPerkusi pilar KDK
PercussionBonyokRhythm pelengkap
GALERI WAJAH LENGKAP

POTRET KELUARGA BESAR DI ATAS & DI BALIK PANGGUNG

Seluruh personel lintas formasi, additional players, serta lingkaran OG crew yang mengukir sejarah KDK.

Bro — Biduan Utama / Rocker Gendut

Bro

Biduan Utama / Rocker Gendut
Iphind — Biduan / Pak RT

Iphind

Biduan / Pak RT
Bonny — Biduan 3 / Tamborin

Bonny

Biduan 3 / Tamborin
Ono — Lead Guitar / Retro

Ono

Lead Guitar / Retro
Ibink — Gendang / Suling / Biduan 2

Ibink

Gendang / Suling / Biduan 2
Boty — Bongo / Gila Army

Boty

Bongo / Gila Army
Bayu Ncust — Bassist OG / Retro Glam

Bayu Ncust

Bassist OG / Retro Glam
Bayu AP — Bassist (Terkini)

Bayu AP

Bassist (Terkini)
Bulux lucky — Lead Guitar (Terkini)

Bulux lucky

Lead Guitar (Terkini)
Om Engky — Rhythm / Flower Generation

Om Engky

Rhythm / Flower Generation
Daniel Keli — Rhythm / Vintage

Daniel Keli

Rhythm / Vintage
Ajiz — Gendang (Terkini)

Ajiz

Gendang (Terkini)
Achong — Rhythm (Terkini)

Achong

Rhythm (Terkini)
Bonyok — Percussion (Terkini)

Bonyok

Percussion (Terkini)
Noldy — Additional Player

Noldy

Additional Player
Sephi — Additional Player

Sephi

Additional Player
Rey — The Management / Manager Pamungkas

Rey

Masa sekarang lebih milih jadi Manager Pamungkas?
Biondy — The Management / Selingkuh jadi Manager Mahalini

Biondy

The Management / Selingkuh jadi Manager Mahalini
Agung Dundz — Additional Player

Agung Dundz

Additional Player
Anggit — OG Crew KDK

Anggit

OG Crew KDK
Go Kong — OG Crew KDK

Go Kong

OG Crew KDK
Copet — OG Crew KDK

Copet

OG Crew KDK
Formasi Lawas KDK
CIRCA 2005

Formasi Lawas

Iphind · Bro · Om Engky · Ono · Bayu Ncust · Ibink · Boty

Formasi Terkini KDK
PANGGUNG TERKINI

Formasi Terkini

Bro · Ibink · Bonny · Bulux lucky · Bayu AP · Achong · Ajiz · Boty · Bonyok ("Kalau Ada yang Nanggap")

DI BALIK MEJA

THE MANAGEMENT

"Mereka yang mengatur panggung, negosiasi, jadwal, dan logistik yang mengawal perjalanan KDK:"

  • ★
    MasJun — Imortal Manager
  • ★
    Bebek Bali — RoadMan Sejati
  • ★
    Bael Jiung
  • ★
    Biondy — Selingkuh jadi Manager Mahalini
LINGKARAN DALAM

THE OG CREW

"Orang-orang di luar daftar pemain. Tidak semua orang harus memegang alat musik untuk ikut menjadi bagian dari perjalanan sebuah band."

  • ★ Go Kong
  • ★ Copet
  • ★ Anggit
  • 🕊️ Almarhum Eko
SAHABAT PANGGUNG

ADDITIONAL PLAYERS

"Pernah ikut main bareng KDK di berbagai panggung:"

Rey "Masa sekarang lebih milih jadi Manager Pamungkas?"
Noldy Sephi Bayu AP Iyas Bulux lucky Achong Mas Agung Dundz

* Kalau ada nama yang belum masuk, bukan berarti kami sengaja melupakan.

PAPAN CATATAN & BUKU TAMU RESMI

BUKU TAMU & CATATAN KAWAN KDK

"Pernah Nonton KDK di Mana? Tinggalkan Jejak & Sumbang Kenangan Lo!"

Punya kenangan nonton KDK di pensi, gigs kampus, atau festival? Punya rekaman video 3GP lawas atau foto yang belum masuk arsip? Tulis pesan atau kirimkan link dokumentasi lo langsung ke database arsip KDK!

FORMULIR TAMU

Tulis Catatan Lo

✍️
Punya file video 3GP atau foto jadul? Upload ke Drive/Dropbox/IG lalu paste linknya di sini.