Kutukan Itu Dimulai Sebelum Kami Tahu Namanya
2000–2006 · Sebuah awal yang tidak pernah direncanakan.
🎤 Prolog Kecil: Konser Dahsyat di Senayan
Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya cikal bakal KDK sudah mulai terlihat sejak pertengahan tahun 2000, lewat sebuah konser dahsyat di Senayan Park (SPARK).
Dahsyat, tentu saja, dalam pengertian kami sendiri.
Konser itu menghadirkan kostum glamor, pencahayaan profesional, dan alat musik supercanggih. Setidaknya, begitulah cara kami mengenangnya hari ini. Dalam ingatan, semuanya tampak megah, seolah-olah kami sedang tampil di panggung utama sebuah festival musik internasional dengan anggaran produksi yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Untungnya, sejarah punya satu kelemahan: ia bisa diceritakan ulang sesuka hati, tetapi foto tidak selalu mau diajak bekerja sama.
Dan kebetulan, kami punya fotonya.
# KDK, Kelamaan Di Kampus
Kami tidak pernah benar-benar merencanakan untuk menjadi band.
Awalnya kami cuma anak-anak Teater Kodok yang kelamaan di kampus. KDK, pada masa itu, berarti Kelamaan Di Kampus. Sebuah nama yang terdengar biasa saja, sampai orang menyadari bahwa kami bukan mahasiswa teladan yang sedang mengejar prestasi akademis. Kami hanya belum juga selesai.
Ada mahasiswa yang kuliah empat tahun lalu lulus. Ada yang lima tahun, lalu lulus. Kami punya pendekatan sendiri terhadap pendidikan tinggi: kami memberikan waktu tambahan kepada institusi untuk mengenal kami lebih dekat.
Saking lamanya, kami mulai akrab dengan lingkungan kampus bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai bagian dari pemandangan. Kalau suatu hari ada yang mengira kami termasuk fasilitas kampus, kami mungkin tidak akan terlalu tersinggung.
Belakangan, KDK menjadi Kopi dan Kretek. Katanya, ide-ide lebih gampang muncul sambil ngopi dan menyalakan kretek. Kami tidak punya penelitian untuk membuktikan teori tersebut. Kami juga tidak ingin melakukan penelitian, sebab ada kemungkinan penelitian itu selesai lebih dahulu daripada kuliah kami.
Dari awal, fondasi organisasi kami memang tidak terlalu ilmiah.
Kami belum punya rencana menjadi band. Lalu kehidupan menawarkan kegiatan tambahan yang berpotensi menyita waktu lebih banyak lagi.
Kalau dipikir-pikir, kami ini bukan orang yang pandai menyelesaikan masalah. Kami lebih suka memperkenalkan masalah baru agar masalah yang lama punya teman.
Dan begitulah, sebelum kami tahu apa itu manajemen band, kami sudah lebih dulu memahami satu prinsip kehidupan: tidak semua hal harus selesai sebelum hal lain dimulai.
# Awalnya, Kami Cuma Mengisi Panggung Kosong
Pada suatu acara di Universitas Sahid, kami tidak punya pertunjukan teater yang siap ditampilkan.
Panggung sudah tersedia, acara harus berjalan, dan kami perlu melakukan sesuatu. Situasinya seperti seseorang yang sudah telanjur memesan gedung pernikahan, tetapi lupa mengundang pengantinnya.
Bedanya, ini bukan pernikahan. Ini acara kampus, dan kami tidak sedang mencari pengantin.
Akhirnya, kami memainkan lagu-lagu akustik dari PSP dan PHB yang sering kami nyanyikan di basecamp.
Tidak ada audisi. Tidak ada rapat pembentukan band. Tidak ada yang berdiri sambil berkata, "Teman-teman, mari kita ubah masa depan musik Indonesia."
Kami bahkan tidak punya alasan untuk berpikir sejauh itu. Kami hanya mengisi panggung yang telanjur kosong.
Ternyata orang-orang menikmati penampilan kami.
Ini kabar baik. Sekaligus awal dari persoalan yang cukup panjang. Sebab, ketika sesuatu yang dilakukan tanpa rencana ternyata berhasil, manusia biasanya tergoda untuk mengulanginya. Kami pun begitu.
Kami bermain lagi, lalu bermain lagi, sampai akhirnya kegiatan yang awalnya spontan itu berkembang menjadi sebuah band.
Tidak ada upacara pendirian. Tidak ada pemotongan pita. Tidak ada surat keputusan yang menyatakan bahwa mulai hari itu kami resmi menjadi sekelompok orang yang akan menghabiskan sebagian hidupnya untuk musik.
Kami hanya terus bermain sampai orang-orang mulai menganggap kami memang band.
Mungkin begitulah KDK dimulai. Kami tidak datang membawa rencana besar. Kami datang membawa lagu-lagu yang biasa kami nyanyikan, lalu pulang dengan kemungkinan untuk manggung lagi.
Bagi sebagian orang, karier dimulai dari mimpi. Bagi kami, karier dimulai dari sebuah panggung yang membutuhkan pengisi acara.
Terkadang, perbedaan antara takdir dan salah penempatan jadwal memang tipis.
👔 Kostum Kami Lebih Siap daripada Masa Depan Kami
Pengaruh Orkes Moral seperti OM PMR, OM PSP, dan Warkop DKI membentuk karakter panggung kami. Kami tidak ingin sekadar tampil sebagai sekelompok orang yang memainkan alat musik. Setiap personel punya karakter, dan setiap karakter punya kostumnya sendiri.
Kami juga punya tema School Days, Sports Department, The Suit Set, dan Beach Mode.
Kami serius memikirkan penampilan. Ada konsep, karakter, dan pakaian yang disesuaikan dengan tema. Kalau urusan karier belum punya arah yang jelas, setidaknya kami tahu harus memakai apa ketika naik panggung.
Pemain gendang kami, misalnya, bisa tampil dengan perlengkapan tidur lengkap. Orang lain mungkin membutuhkan alarm untuk bangun pagi. Dia cukup naik panggung.
Kami tidak tahu apakah ini bentuk kebebasan berekspresi atau tanda bahwa batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sudah terlalu jauh bergeser. Yang jelas, di KDK, bahkan orang yang terlihat siap tidur pun tetap punya tanggung jawab musikal.
Pengaruh OM PMR, OM PSP, dan Warkop DKI membuat kami memahami bahwa pertunjukan musik tidak harus berhenti pada bunyi instrumen. Ada karakter, humor, dan visual yang ikut membentuk pengalaman penonton.
Kami ingin orang mengingat apa yang mereka lihat.
Tentu saja, ada risikonya. Seseorang mungkin mengingat lagu kami. Seseorang lain mungkin mengingat pembalap berjoget menggeliat sambil memainkan tamborin. Kami tidak tahu mana yang lebih membekas. Musik punya tangga nada, tarian punya koreografi, tetapi gerakan pembalap kami waktu itu sepertinya tidak tercantum dalam buku panduan SKJ 88.
# Tahun-Tahun Ketika Semuanya Terlihat Menjanjikan
Memasuki 2005–2006, KDK mulai sering bermain di berbagai panggung, termasuk Festival Kemang 2005. Kami juga tampil bersama Endank Soekamti, The Upstairs, Seringai, dan Steven & The Coconut Treez.
Kami mulai mengenal skena pensi Jakarta. Panggung demi panggung terbuka, kami bertemu banyak musisi, dan kegiatan yang awalnya hanya untuk mengisi kekosongan mulai membawa kami ke lingkungan yang lebih luas.
Lalu datang kesempatan untuk merekam album melalui label 267 milik almarhum Steven N. Kaligis, yang akrab kami panggil Om Tepeng.
Dalam antrean menuju kesempatan itu, ada Richard D. Gillis, kemudian KDK, lalu Monkey Boots.
Kami punya urutan. Ada proses. Ada sesuatu yang bisa ditunggu.
Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan dengan metode coba-coba, akhirnya ada hal yang berjalan seperti prosedur resmi. Kami tinggal menunggu giliran.
Mengantre bukan pengalaman baru bagi kami. Kali ini, setidaknya, yang ditunggu adalah kesempatan merekam album, bukan pengumuman nilai atau jadwal pertemuan berikutnya dengan dosen.
Untuk sesaat, semuanya terasa seperti sedang bergerak ke arah yang benar.
Kami mulai membayangkan album, rekaman, dan perjalanan berikutnya. Barangkali ini awal dari sesuatu yang lebih besar.
Kami belum tahu apa bentuknya. Kami hanya tahu bahwa ada kesempatan nyata di depan mata, dan kami ingin menjalaninya.
Kalau ini film, mungkin musik latarnya mulai membesar. Kamera bergerak perlahan ke wajah kami, seolah-olah sebentar lagi kehidupan akan memberikan hadiah kepada sekelompok orang yang sudah cukup lama menunggu.
Sayangnya, kehidupan tidak selalu membaca naskah yang sama dengan tokoh utamanya.
🍾 Sebuah Botol di Ujung Sebuah Era yang Berakhir
Di salah satu acara pensi di kawasan Senayan, suasana penonton sudah tegang sebelum kami naik panggung. Ada persoalan antarsekolah yang berujung pada kerusuhan.
Saat KDK tampil, sebuah botol melayang ke arah panggung.
Kami sempat berhenti sebentar, lalu melanjutkan penampilan.
Botol itu bukan bagian dari pertunjukan. Tidak ada di daftar properti, tidak masuk konsep visual, dan tidak pernah dibicarakan dalam persiapan sebelumnya. Kalau memang ada yang berniat menambahkan unsur kejutan, sebetulnya masih banyak pilihan yang tidak melibatkan benda terbang ke arah musisi.
Setelah giliran kami selesai, Seringai naik panggung. Kerusuhan kemudian pecah. Kendaraan dan peralatan band ikut terbakar.
Kejadian itu sudah jauh melampaui urusan pertunjukan. Ada kerusakan nyata dan orang-orang yang terdampak, jadi tidak ada gunanya menjadikannya sekadar bahan lelucon.
Sesudah kejadian itu, suasana pensi sekolah terasa berubah. Acara-acara semacam ini semakin dibatasi, meskipun kami tidak bisa memastikan bahwa satu kejadian itu sendirian yang mengakhiri masa kejayaan pensi.
Yang kami tahu, ruang untuk bermain di skena yang sebelumnya terasa hidup dan penuh kesempatan perlahan berubah.
Kami datang untuk bermain musik. Kami ingin terus bermain musik. Tetapi ada hal-hal di luar panggung yang tidak bisa kami kendalikan, dan dampaknya bisa terasa jauh setelah acara selesai.
Pada saat itu, kami belum menyebutnya kutukan. Kami hanya menjalani kejadian demi kejadian tanpa mengetahui bahwa suatu hari nanti, semuanya akan terlihat seperti rangkaian cerita yang disusun oleh seseorang dengan selera humor yang cukup meragukan.
Kalau memang ada yang mengatur perjalanan kami, kami berharap setidaknya orang itu bekerja berdasarkan kontrak. Sebab, melihat apa yang terjadi kemudian, sepertinya dia tidak pernah mengambil cuti.
Kami belum tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Waktu itu, kami masih menganggap perjalanan ini sebagai sesuatu yang berjalan dengan sendirinya. Kami bermain musik, mendapat panggung, bertemu orang-orang baru, lalu menjalani apa pun yang datang berikutnya.
Kami belum menyebutnya kutukan. Untuk menyebut sesuatu sebagai kutukan, setidaknya orang harus mengalami kejadian aneh lebih dari sekali. Kami belum punya cukup bahan untuk menyusun laporan, apalagi mengadakan konferensi pers.
Kami hanya tahu bahwa perjalanan KDK baru dimulai.
Dan sebentar lagi, kami akan mengetahui bahwa sebuah pintu yang terbuka belum tentu berarti jalan di belakangnya bebas hambatan.
Circa 2000 @Senayan Park (SPARK)
@Stardust
The OG